
Vagina menjadi salah satu bagian tubuh yang wajib dirawat dengan baik. Semakin berkembangnya zaman dan teknologi perawatan vagina juga semakin beragam, salah satunya dengan peremajaan vagina. Sesuai dengan namanya, peremajaan vagina ini bertujuan untuk mengencangkan vagina.
Untuk melakukan peremajaan vagina ini juga tidak boleh sembarangan, karena harus ditangani oleh dokter yang sudah ahli di bidangnya dan telah mendapatkan sertifikasi terkait.
Efek Samping dari Peremajaan Vagina
Jika kedua hal tersebut tidak diperhatikan, berbagai risiko dari peremajaan vagina bisa saja terjadi seperti nyeri yang berulang, luka bakar, dan bekas luka yang malah membuat kepercayaan diri menurun.
Pada saat menjalankan prosedur peremajaan vagina, ada sebuah alat yang dimasukkan ke vagina yang berguna untuk melaser atau memanaskan jaringan vagina.
Meskipun bukan prosedur bedah, namun peremajaan vagina ini bisa menimbulkan risiko seperti perdarahan dan juga infeksi. Maka dari itulah sebelum melakukan peremajaan vagina, biasanya Anda diminta untuk melakukan konsultasi secara menyeluruh dengan dokter yang menangani Anda. Seperti yang dijelaskan sebelumnya pilihlah dokter atau klinik yang terpercaya, telah mendapatkan sertifikasi, dan yang pasti berpengalaman.
Selain itu Anda juga harus memperhatikan persyaratan untuk melakukan prosedur peremajaan vagina seperti tidak sedang hamil, wanita yang masih virgin, dan wanita yang sudah menikah dengan usia di atas 18 tahun. Prosedur ini boleh dilakukan tiga bulan pasca melahirkan dan juga ibu menyusui.
Prosedur non-invasif juga sebaiknya tidak dilakukan saat menstruasi. Hal tersebut dikarenakan pada saat wanita menstruasi biasanya tubuh akan jauh lebih sensitif sehingga perawatan bisa menjadi kurang nyaman.
Jadi sangat penting untuk melakukan diskusi terlebih dahulu sebelum melakukan prosedur peremajaan vagina ini sehingga bisa mengetahui apakah Anda boleh ataupun tidak untuk melakukan prosedur.
Untuk lebih jelasnya, mari simak beberapa efek dari peremajaan vagina jika tidak dilakukan dengan benar, antara lain sebagai berikut:
- Perdarahan dan juga infeksi.
- Jika melakukan laser vagina rejuvenation (LVR), Anda tidak diperbolehkan melakukan hubungan intim selama 6 minggu pasca prosedur LVR. Hal tersebut dikarenakan dinding vagina yang masih sensitif sehingga sangat rentan mengalami luka karena adanya gesekan.
- Kandung kemih bisa mengalami cedera.
- LVR yang bisa mengganggu keberadaan bakteri baik di sekitar vagina sehingga bisa memungkinkan terjadinya infeksi bakteri merugikan.
Beberapa hal yang dapat mengganggu keberadaan bakteri baik seperti air yang digunakan untuk membasuh vagina, tidak menjaga kebersihan vagina, dan juga berada di lingkungan yang buruk.
- Beberapa penyakit tertentu seperti gangguan pada rahim, diabetes, dan penyakit lainnya yang berimbas ke vagina. Penyakit-penyakit tersebut bisa Anda kenali lewat lendir yang dikeluarkan vagina. Maka dari itulah sangat penting untuk memastikannya dengan cara pemeriksaan ginekolog.
Gaya hidup seseorang juga sangat mempengaruhi kesehatan vagina. Jarang melakukan olahraga, merokok, dan mengonsumsi alkohol bisa menurunkan kualitas jaringan area vagina. Gaya hidup seseorang memang sangat penting untuk menjaga kesehatan tubuh, termasuk vagina.
Sedangkan untuk menguatkan otot-otot di sekitar vagina, Anda bisa melakukan latihan dasar panggul yang dilakukan sebanyak 3 hingga 4 kali dalam sehari. Namun pada saat latihan, hindari mengencangkan otot bokong, paha, dan perut. Ini merupakan salah satu cara sederhana yang bisa Anda coba untuk mengencangkan vagina.
Demikian penjelasan mengenai efek samping dari peremajaan vagina, semoga informasi ini bermanfaat ya.
Sumber:
https://www.fimela.com/beauty/read/3830093/bahaya-vaginal-rejuvenation
https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/3618934/kupas-tuntas-tentang-peremajaan-vagina
